ISNU Kabupaten Malang

Tidak banyak yang tahu, termasuk warga Nahdlatu Ulama sendiri, apa itu ISNU (Ikatan sarjana Nahdlatul Ulama). Padahal, ISNU ini merupakan badan otonom di bawah organisasi kemasyarakatan terbesar di negeri ini: NU.

Ini saya kira wajar. Pertama karena ISNU merupakan badan otonom paling belia. Didirikan pada tahun 1999 di Surabaya dan baru diresmikan sebagai badan otonom NU pada 2010 lewat Muktamar ke-32 NU di Makassar. Bandingkan dengan badan otonom NU lain yang jauh lebih tua. Seperti IPNU (Ikatan Pelajar NU) mapun Gerakan Pemuda Ansor.

Kedua, setelah diakui sebagai anak oleh NU, ISNU justru tidur panjang. Selama 13 tahun sejak lahir, ISNU nyaris tidak melakukan apa-apa. ISNU baru bangun dari tidur setelah Kongres I pada 17-19 Februari 2013 di Universitas Darul Ulum Sukodadi Lamongan. Setelah Kongres yang memilih Dr Ali Masykur Musa (anggota Badan Pemeriksa Keuangan) sebagai ketua umum inilah, ISNU mulai dilirik orang. Karena di struktur kepengurusan ISNU periode pertama itu ada nama para pesohor. Sebut saja Prof. Dr. Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi saat itu), sebagai ketua dewan kehormatan. Ada pula nama Dr. Marzuki Ali (Ketua DPR RI saat itu) sebagai ketua dewan ahli, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA (Mendikbud saat itu) sebagai wakil ketua dewan ahli. Dan Dra. Khofifah Indar Parawansa (kini Guberbur Jatim terpilih) sebagai anggota penasihat.

Melihat komposisi pengurus IsNU waktu itu begitu mentereng, lagi-lagi jalan organisasi masih tertatih-tatih. Popularitas dan kiprah IsNU masih tenggelam. Gaung IsNU belum menggema dengan nyaring meski di daerah-juga sudah terbentuk kepengurusan. Termasuk di Jawa Timur.

Tentu kondisi ini patut disayangkan. Sebab posisi dan daya tawar ISNU begitu strategis. Harusnya IsNU bisa membantu melaksanakan kebijakan NU dari kelompok kaum intelektual yang mempunyai integritas dan kapasitas di berbagai bidang.
Harapan masyarakat, wabil khusus warga Nahdliyyin, demikian besar terhadap ISNU. ISNU diharapkan menjadi katalisator kemajuan umat, bangsa dan negara. Karena di organisasi ISNU inilah, berkumpulnya para intelektual, cendekiawan dan profesional dari beragam disiplin ilmu. Ada dari kalangan akademisi, teknokrat, profesional maupun birokrasi pemerintahan. Tak berlebihan kalau saya sebut jika ISNU ini seperti ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) hijau. Kenapa hijau? Karena anggotanya hanya khusus warga Nahdliyyin yang identik dengan wana hijau. Berbeda dengan ICMI bentukan mantan Presiden RI BJ Habibie, di mana anggotanya dari beragam kelompok.

Sebagai badan otonom di bawah NU, peran ISNU sangat strategis. Bermodal sumber daya manusia yang begitu pengalaman di bidangnya masing-masing, harusnya ISNU bisa menjadi jantungnya NU. Perumus program, penyusun konsep hingga pada tataran aplikatif untuk pengembangan NU bisa dilakukan ISNU. Mulai ekonomi, sosial, politik dan keagamaan bisa digarap. Termasuk pengembangan jaringan dan kerja sama dengan berbagai pihak baik di tingkat nasional maupun internasional. Ibaratnya, laboratorium pengembangan NU ya di ISNU ini. Ke depan, ISNU harus bisa menjadi rujukan menjawab persoalan keumatan. Pengurus tidak boleh hanya berdiri di menara gading yang jauh dari umat. Lewat organisasi inilah, para profesor, doktor, dokter atau profesi lain saatnya turun gunung mendekat ke umat yang membutuhkan. Ketua Pengurus Wilayah ISNU Jatim yang baru dilantik, Prof. M. Masud Said menyebut jika organisasi ini menjadi wadah ”pulang kampung” para kader NU yang selama ini banyak berkiprah di tempat lain. Ada banyak kaum intelektual dan profesional dari kalangan Nahdliyin yang belum terakomodir di lembaga NU. Atau mereka yang dari keluarga NU, namun selama ini waktunya lebih banyak tersita untuk kepentingan lain hingga belum banyak mengabdi ke NU, nah ISNU inilah tempatnya berkhidmat.

Sebagai laboratorium, ISNU memiliki fungsi dasar untuk meningkatkan pengembangan Islam Islam Ahlussunah wal Jama’ah Annahdliyah. Termasuk juga meningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan terus meningkatkan sinergitas kegiatan NU dalam memperjuangkan kesejahteraan umat dan masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. ISNU pula tempat efektif menghalau derasnya aliran atau gerakan politik transnasional hasil ”impor” yang kerap bertentangan dengan ideologi negeri ini.

Secara teknis, tujuan itu bisa dilakukan melalui menghimpun potensi para ilmuwan dan profesional di lingkungan NU. Berperan dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan sosial ekonomi dalam rangka menyiapkan generasi kepemimpinan dan sumberdaya manusia (SDM) yang berakhlak luhur, berkualitas dan terpercaya bagi Jam’iyah NU, khususnya dalam memasuki era globalisasi. Juga membentuk komunitas ilmiah, menyelenggarakan berbagai kegiatan penelitian dan pengkajian yang inovatif, strategis, dan antisipatif. Tak kalah penting menjembatani komunikasi antara Jam’iyah dan Jama’ah NU.

Sebagai pedoman perilaku, ISNU tetap berkiblat pada induknya: NU. Yakni dengan menjunjung tinggi akhlakul karimah serta mengembangkan ukhuwah Islâmiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insâniyah yang didasari prinsip-prinsip ketulusan, keadilan, moderasi, keseimbangan dan toleransi. Juga ditegaskan, ISNU harus komitmen berpedoman pada Al-Qur’an, As.Sunah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas, sama halnya NU.

Ada dua fungsi yang harus dijalankan ISNU. Pertama sebagai penggerak dan pemungkin. Sebagai organisasi penggerak, sarjana dan kaum intelektual yang ada di ISNU berkewajiban terlibat secara nyata dalam menggerakkan masyarakat menuju kemajuan dan menggapai kesejahteraan. Fungsi penggerak itu tidak hanya sekadar memberi manfaat, tapi manfaat yang sebesar-besarnya. Artinya, manfaatnya benar-benar terasa bagi umat.

Sementara sebagai pemungkin, ia harus mampu mengubah sesuatu yang awalnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak boleh terjebak pada ketidakbiasaan, hambatan atau kegagalan. Artinya, harus selalu kreatif menemukan solusi terbaik atas permasalahan yang dihadapi masyarakat tanpa mengabaikan sikap kritis konstruktifnya. Tentu untuk mewujudkan itu semua perlu kerja keras, cerdas dan kesungguhan dengan ketulusan hati dari semua pengurus. Saya kira, khusus PWNU Jatim di bawah kepemimpinan Cak Ud, sapaan karib Masud Said, bisa mengemban amanah yang tak ringan itu. Dengan modal pengalaman yang dimiliki di berbagai organisasi, dia akan mampu membawa ISNU bermanfaat, NU bermartabat menuju Jatim sejahtera. Selama bertugas Cak!. (*)

PENULIS:

Pengurus Cabang ISNU Kabupaten Malang Bidang Komunikasi dan Informasi
Wartawan Jawa Pos Radar Malang

Leave a Comment